Perubahan Iklim dan Upaya Mitigasinya

 


    Perubahan iklim merupakan salah satu isu cukup hangat dan semakin banyak untuk dibicarakan dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Awalnya, perubahan ini terjadi secara terkendali dan sangat lambat. Namun, sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia—terutama kegiatan pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas—telah mempengaruhi pola cuaca dalam skala regional bahkan global. Aktivitas manusia ini menjadi penyebab utama perubahan iklim yang tidak terkendali.

    Secara langsung, perubahan iklim berdampak pada pemanasan global. Pemanasan global adalah suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata bumi. Pemanasan ini merupakan awal dari perubahan iklim yang drastis.

    Perubahan iklim dapat mempengaruhi kesehatan manusia, perumahan, keselamatan dan pekerjaan. Beberapa dari kelompok masyarakat sudah lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti masyarakat yang tinggal di negara kepulauan kecil. Kondisi seperti kenaikan permukaan air laut dan intrusi air asin telah mencapai titik dimana seluruh masyarakat harus pindah. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan membuat masyarakat berisiko mengalami kelaparan. Dilansir dari Brookings (25/07/2019), di masa depan, jumlah ‘pengungsi iklim’ diperkirakan akan meningkat.

    Sebagian besar orang berpikir bahwa pemanasan global hanya berdampak pada peningkatan suhu secara global. Namun, kenaikan suhu secara global hanyalah awal dari mulainya malapetaka. Hal ini dikarenakan Bumi adalah suatu sistem di mana semuanya terhubung. Perubahan yang terjadi pada satu system fisis bumi dapat memengaruhi system lainnya, apalagi perubahan pada suhu sebagai parameter yang penting dalam analisis cuaca dan iklim. Tidak hanya masalah suhu, pemanasan global juga terbukti memunculkan masalah baru seperti kekeringan hebat, kelangkaan dan penurunan kualitas air, maraknya kebakaran hutan, mencairnya sebagian es di kutub sehingga naiknya permukaan laut, bencana alam seperti banjir, dan yang tak kalah penting perubahan pola cuaca seperti meningkatnya intensitas hujan, atau yang lebih dikenal sebagai hujan ekstrem (Departement of Physics, Universitas Andalas, 20 September 2023)

Seperti disebutkan diatas, ada beberpa faktor yang utama yang meyebakan perubahan iklim, antara lain :

1. Pembakaran bahan fosil (minyak, batubara, gas)

2. Deforestasi, hilangnya tutupan hutan skala besar untuk alih fungsi lahan

3. Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), seperti Karbon Dioksida (CO2) dan Metana (CH4)

    Dampak perubahan iklim ini sangat berbahaya untuk keberlangsungan kehidupan di masa mendatang, banjir, kekeringan, longsor, cuaca ekstrim, gagal panen, konflik sumber daya pasti akan kita temui. 

    Secara Nasional, Indonesia sudah menetapkan target untuk penurunan emisi gas rumah kaca  sebesar 29% pada tahun 2030, melalui Target Indonesia FOLU Net Sink 2030 sebesar 17,2% dengan upaya memperkuat pengelolaan di sektor kehutanan dan lahan (pengembangan kebijakan kehutanan yang berkelanjutan dan pengurangan deforestasi. 

    Upaya untuk mitigasi iklim harus melibatkan semua pihak dan sektor terkait untuk mencapai target bersama. Target yang sudah ditetapkan akan tercapai apabila semua memiliki pemahaman yang sama akan dampak yang akan ditimbulkan dari perubahan iklim. 

    Sektor energi dan industri merupakan penyumbang terbesar gas rumah kaca (GRK) di Indonesia, pada tahun 2022 sektor energi dan transportasi menyumbang 50,6% atau sebesar 1 Gt CO2e dari total emisi di Indonesia. Kategori penyumbang emisi terbesar secara berturut-turut antara lain industri produsen energi (46,35%), transportasi (26,39%), industri manufaktur dan konstruksi (17,75%) dan sektor lainnya (4,63%).

    Laju deforestasi di Indonesia saat ini masih sangat tinggi, antara 2021-2022 Indonesia kehilangan luasan hutan sebesar 106 ribu hektar dan tahun 2023 angka deforestasi mencapai 257.384 Ha. Deforestasi terbesar terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Riau dan Papua. Deforestasi ini akibat dari alih fungsi lahan, pembakaran hutan dan illegal logging.

    Ada beberapa upaya mitigasi iklim untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Secara individu mengurangi penggunaan listrik dan alat elektronik lainnya saat tidak diperlukan, mengurangi konsumsi air, memilah sampah, menanam pohon, membuat pupuk sendiri (kompos). Ditingkat masyarakat dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan sumber energi alternatif (terbarukan), pertanian ramah lingkungan dan pertanian regeneratif, melindungi dan memulihkan hutan dan ekosistem penting.

    Mempertahankan kawasan hutan yang masih tersisa saat ini menjadi sangat penting yang berfungsi untuk menyerap karbon dioksida (CO2) sebagai penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Data tahun 2023, luas hutan Indonesia mencapai 105,86 juta Ha. Angka ini terus berkurang dari aktivitas perubahan fungsi kawasan hutan. Untuk mencapai target FOLU Net Sink 2030, pemerintah harus benar-benar serius menjaga hutan yang tersisa tetap ada dan mempercepat penetapan status kawasan hutan yang tersisa.  

    Proyek-proyek ambisius yang menghabiskan biaya besar di Indonesia yang mengatasnamakan pengurangan dampak perubahan iklim harus diawasi secara ketat dan bukan sekedar laporan diatas kertas melalui monitoring dan evaluasi berkala.

 










Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer