Peran Pemangku Adat Desa Renah Pelaan dalam Menjaga Hutan

 

Pertemuan rutin masyarakat adat Renah Pelaan

        Desa Renah Pelaan adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan baik itu hutan produksi terbatas maupun dengan Taman Nasional Kerinci Seblat.
            Secara langsung masyarakat masih menggantungkan kehidupannya pada hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk jangka panjang. Keselarasan hubungan antara masyarakat dan lingkungan/hutan menjadi salah faktor yang harus dijaga baik untuk keberlangsungan jangka panjang, dimana masyarakat menjaga kelestarian hutan dan hutan memberi penghidupan untuk masyarakat. Hubungan ini sudah sangat lama berlangsung, mengingat Desa Renah Pelaan adalah salah satu desa tertua di Kecamatan Jangkat.
       Kebutuhan masyarakat akan hutan antara lain untuk kebutuhan lahan garapan pertanian, perkebunan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti pangan, kayu bakar dan pakan ternak.
" Hutan sudah memberikan banyak manfaat untuk masyarakat Desa Renah Pelaan pada khususnya, hutan menjadi penopang kehidupan bagi warga kita dan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga sumber penghidupan kita itu" (Abdullah, Tokoh Masyarakat)
Duduk Busamo Pemangku Adat
           Ada beberapa kebijakan yang diatur dan ditetapkan oleh pemerintahan desa beserta dengan pemangku adat di Desa Renah Pelaan, pemangku adat yang berperan disini adalah Pemangku Aning Darajo Desa Renah Pelaan yang diatur dalam kegiatan Duduk Busamo.


DUDUK BUSAMO                                                                                                                                             Dalam menyusun peraturan yang mengatur hubungan masyarakat dengan hutan, masyarakat menginisiasi pertemuan adat dalam kegiatan Duduk Busamo. Unsur-unsur yang terlibat dalam pertemuan ini adalah pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat dan pemuda. Pertemuan ini menjadi agenda rutin tahunan yang dipadukan dalam acara Kenduri Adat Desa Renah Pelaan.                           Peraturan-peraturan yang mengatur hubungan masyarakt dengan hutan diatur dalam Peraturan Adat (Hukum Adat). Mekanisme penyusunan dan pemberlakuan peraturan ini adalah, tokoh adat dan BPD menyusun peraturan adat kemudian diajukan ke pemerintahan desa untuk disahkan menjadi peraturan desa berdasarkan kearifan lokal setempat.                                                                                                Beberapa peraturan adat yang mengatur hubungan masyarakat dengan hutan, antara lain :            1. Pemerintah desa berwenang memberikan hak garap kepada warga desa untuk menggarap lahan              pertanian sawah, pertanian lahan kering dan lahan kebun campur. Artinya masyarakat yang akan menggarap lahan harus sepengetahuan pemerintah desa dan tokoh adat, tokoh adat akan memberikan arah ajun kepada masyarakat lokasi yang tepat untuk menggarap lahan sedangkan pemerintah desa memastikan dokumen penduduk bahwa yang mau menggarapa lahan tersebut adalah benar-benar merupakan warga Desa Renah Pelaan dan menerbitkan surat hak garap.                                                  2. Tidak boleh memperjual belikan tanah kepada masyarakat diluar Desa Renah Pelaan. Tanah yang sudah diberikan hak garap tidak boleh diperjual belikan kepada masyarakat di luar desa, apabila terjadi maka tanah tersebut akan diambil pengelolaannya oleh desa dan perjanjian jual beli tersebut akan ditanggung oleh si penjual.                                                                                                                          3. Penebangan kayu dari lahan Hutan oleh warga desa Renah Pelaan wajib mendapat persetujuan Pemerintah Desa. Penebangan ini juga bersifat untuk memperbaiki rumah dan fasilitas umum. Bagi warga diluar desa akan dikenakan sanksi adat.                                                                                          4. Terhadap warga desa yang akan pindah (menutup lawak), maka berlaku ketentuan : Harta ringan dibawa dan menjadi kepunyaan warga tersebut sedangkan harta berat berupa lahan garapannya menjadi milik desa dan menjadi aset desa. Hal ini bertujuan agar tidak ada lahan terlantar di desa.                                Beberapa contoh peraturan adat diatas merupakan komitmen kuat peran masyarakat adat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Peraturan ini akan ditinjau kembali setiap tahun untuk diperbarui menyesuaikan dengan keadaan perubahan zaman dan juga untuk memastikan mekanisme penerapan hukum ini di masyarakat apakah ada kendala dalam penerapannya.                                                                     Praktik-praktik Kearifan lokal dalam melestarikan hutan dan lingkungan seperti ini, sampai ini masih diterapkan dan masih diberlakukan di Renah Pelaan dan terbukti cukup efektif dalam rangka menjaga kelestarian hutan.                                                                           

Komentar