Sepenggal Kisah dari Dataran Tinggi Jangkat : Merawat Kehidupan melalui Data
Merawat Kehidupan melalui Data
Pak Marzon Apri (Kades Renah Pelaan) menanam Jeruk di lahan bekas tanaman Nilam (MA, 2019)
Cerita ini dimulai adanya kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Mitra Aksi_Jambi kerjasama dengan TFCA-Sumatera yang melakukan pendampingan di desa-desa penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah dataran tingggi Jangkat, Kab. Merangin.
15 Mei 2018, saya bersama 4 orang
teman saya yaitu Bang Jhon, Mike, Kendri dan Dendi dari Kantor Yayasan Mitra Aksi
yang diantar oleh kendaraan operasional kantor tiba di Stasiun Lapang di Desa
Lubuk Pungguk salah satu desa di Kecamatan Jangkat, Kab. Merangin. Rumah yang
kami jadikan untuk stasiun lapang ini adalah rumah salah seorang warga Desa
Lubuk Pungguk yaitu Pak Salman yang kami kontrak kurang lebih selama 3 tahun.
Rumah ini sudah lama tidak ditempati oleh Pak Salman karena sudah membangun
rumah lagi di depan lapan lapangan bola kaki Desa Lubuk Pungguk.
Rumah permanen yang sebagian besar
konstruksinya terbuat dari beton ini berada persis di perbatasan antara Desa
Lubuk Pungguk dan Desa Muara Madras, tepatnya disamping gapura yang bertuliskan
“Selamat Datang di Desa Muara Madras” dan bersebelahan dengan tempat wisata
taman bunga “Hesti Garden” miliknya Buk Hesti istri dari Bupati Merangin Bapak
Al Haris.
Kami mulai menurunkan barang-barang
dari mobil dan menyusunnya didalam rumah. Debu dilantai dan sarang laba-laba di
dinding dan jendela rumah sangat banyak menandakan rumah ini sudah lama tidak
ditempati. Saya dan 4 orang teman saya mulai membersihkan rumah, kami membagi
tugas sebagian membersihkan lantai dan sebagian lagi membersihkan sarang
laba-laba. Selang air plastik panjang kami sambungkan dari rumah sebelah milik
Pak Ibnu untuk mengisi bak penampung air. Cukup menguras tenaga untuk
membersihkan rumah ini yang memiliki 3 kamar tidur, 2 ruangan tamu dan 1 dapur
dan sore hari kami baru selesai membersihkah semua bagian rumah.
Sambil istirahat di teras rumah bagian
depan jam sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB, udara dingin sudah mulai terasa
dan saya sambil bercanda mulai membuka obrolan ringan dengan teman sembari
berkata “serasa tinggal dikutub kita ya” langsung disambut tawa dari
teman-teman saya. Kemudian Bang Jhon menimpali perkataan saya “ kalo seperti
ini udaranya, pasti penyakit rematik saya kambuh hahahaha” kamipun sontak
tertawa dengan kompaknya. Obrolan ringan kamipun diakhiri dengan membuat
kesepakatan untuk melakukan rapat koordinasi tim lapangan setelah shalat isya
untuk menyusun rencana kerja tim.
Kecamatan Jangkat berdasarkan data BPS
tahun 2018 Kab. Merangin memiliki ketingggian ± 1035 mdpl dan masuk dalam
kawasan Landscape Taman Nasional
Kerinci Seblat (TNKS), kawasan perbukitan yang masih didominisi oleh tutupan
hutan dengan suhu udara rata-rata 18 - 21 °C, untuk kami yang baru datang
disana cukup terasa udara dingin menusuk kedalam tulang dan dibutuhkan waktu
seminggu bagi kami untuk menyesuaikan cuaca disana.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB,
kami berkumpul di ruang tamu bagian depan untuk melakukan rapat koordinasi tim.
Saya membuka rapat bersama tim menyusun rencana kegiatan yang akan dilakukan di
desa dampingan. Ada 6 desa yang akan menjadi desa dampingan di program
Konservasi Bentang Alam Kawasan Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)
Berbasis Tata Guna Lahan kerjasama antara Yayasan Mitra Aksi dengan
TFCA-Sumatera yaitu Desa Renah Alai, Desa Muara Madras, Desa Pulau Tengah, Desa
Koto Rawang, Desa Koto Renah dan Desa Renah Pelaan.
Kurang lebih 3 jam kami melakukan
rapat koordinasi tim dan kamipun harus mengakhiri rapat ini karena jaket yang
dipakai dan sarung yang kami lilitkan di leher untuk menghangatkan badan tidak
bisa melawan dinginnya suhu udara malam hari di dareah Jangkat. Sayapun menutup
rapat dan disepakati kegiatan kerja di desa dampingan untuk tahap awal yaitu
melakukan kunjungan dan silaturahmi ke desa untuk menyiapkan pertemuan
sosialisasi program.
Pagi hari esoknya, jam sudah
menunjukkan pukul 07.00 WIB kami duduk berkumpul di teras rumah bagian
belakang, udara masih terasa sangat dingin, kamipun menghidupkan api unggun dan
duduk mengelilingi api untuk menghangatkan badan dan mengumpulkan energi untuk
memberanikan diri mencoba mandi. Pak Ibnu datang menghampiri kami, mulai
memperkenalkan diri dan berakrab dengan kami, beliau warga Desa Lubuk Pungguk
yang rumahnya bersebalahan dengan stasiun lapang kami. Setelah lama bercerita
beliaupun berkata pada kami “kalau di daerah
dingin seperti disini, kalau kita gak mandi kita akan merasa tambah dingin”.
Serentak kami terdiam belum bisa menerima teori beliau, akhirnya Mike bergegas
ke kamar mandi untuk mencoba teori beliau dan selesainya mandi Mike
mencerikatakan pengalaman pertamanya mandi di daerah dingin “ coba bang mandi, terasa segar dan badan kita
berasap mengeluarkan uap” kamipun tertawa dan bersemangat untuk mandi.
Menunggu antrian mandi saya mengeluarkan motor dan mulai memanaskan mesin motor
untuk persiapan jalan ke desa dampingan, Kendri mencoba menghubungi Kepala Desa
Renah Pelaan untuk memastikan jadwal kunjungan kami ke desa tersebut.
Perjalanan kami dimulai dengan tujuan
Desa Renah Pelaan, salah satu desa di Kecamatan Jangkat yang berbatasan dengan
Desa Koto Renah. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang
sangat luar biasa, sawah yang terbentang luas, hutan yang masih hijau,
perkebunan kopi dan tanaman hortikultura lainnya di kiri kanan jalan, sampai di
desa Koto Renah kami memasuki simpang jalan yang mengarah ke Desa Renah Pelaan,
sangat berbeda dengan kondisi jalan utama diluar desa yang sudah di aspal,
sedangkan jalan ke desa Renah Pelaan masih jalan tanah yang dipenuhi lubang
genangan air dan kondisi jalan yang sangat memperhatikan, disepanjang jalan
kami bertemu anak-anak sekolah yang berjalan sambil menjinjing sepatu karena
takut kotor, saya menyempatkan berhenti sebentar menanyakan dimana sekolah
mereka, dan mereka ternyata sekolah di Desa Koto Renah untuk Jenjang Sekolah Menengah
Pertama karena di desa cuma ada Sekolah Dasar saja.
Kamipun sampai di Desa Renah Pelaan,
kurang lebih 45 menit waktu perjalanan dari stasiun lapang kami untuk sampai ke
desa ini. Setibanya di rumah Kepala Desa, kami disambut dengan ramah dan
dipersilahkan masuk kerumah oleh Pak Kades, berselang beberapa menit kemudian
termos, gelas, toples yang berisi gula dan kopi dihidang kepada kami, kamipun
dipersilahkan untuk membuat dan meracik minuman kami masing-masing, kebiasaan
seperti ini masih kita jumpai disini, tujuannya untuk menghormati tamu yang
datang dan untuk menyesuaikan dengan selera kita masing-masing.
Saya mulai membuka obrolan dengan memperkenalkan
diri dan dilanjutkan dengan teman saya. Kemudian saya mulai berbasa-basi
mengatakan pendapat saya tentang tempat tinggal beliau, rumah panggung yang
terbuat dari kayu ini sangat nyaman untuk di tempati dan saya menyakan ke
beliau berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun rumah kayu, beliau menjawab
“kalau dirupiahkan mungkin tidak seberapa
yang penting nyaman untuk tempat berteduh”, sayapun penasaran dan
memaksakan beliau untuk menyebutkan angkanya “ yah, paling sekitar 150 juta lah biayanya” sayapun terdiam dan
bergumam “waih, mahal juga ya”. Model
arsitektur bangunan rumah di daerah Jangkat sampai saat ini rata-rata rumah
panggung yang bahan utamanya terbuat dari kayu yang merupakan ciri khas desa-desa
yang berbatasan dengan kawasan hutan.
Marzon Apri nama Kepala Desa renah
Pelaan, lelaki berperawakan kurus tinggi ini sangat ramah dan murah senyum
walaupun kami baru pertama ketemu dan kami sudah bisa ngobrol santai yang
terkesan kami sudah kenal lama, beliau sangat terbuka dan cepat akrab dengan
siapapun. Sayapun mulai menjelaskan tujuan kedatangan kami dan rencana kegiatan
yang akan kami lakukan di Desa Renah Pelaan. Beliau merespon dengan baik maksud
dan tujuan kedatangan kami sambil berkata “sayo
selaku kades Renah Pelaan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya sudah
mau berkunjung ke desa kami, jarang ado yang mau berkunjung ke desa kami karena
daerah terpencil, jalannnyo buruk. Nah, ini ado kalian yang mau datang membantu
dan membimbing kami untuk kemajuan desa kami, sangat bersyukur kami”
beliaupun kemudian memanggil salah seorang anaknya untuk minta tolong
diambilkan hp nya. Pak Marzon Apri memiliki 3 orang anak, 2 orang laki-laki dan
1 perempuan. Setelah diantarkan hp nya beliau kemudian menelepon Sekretaris
Desa untuk bisa hadir di rumah beliau perihal kedatangan kami. Beberapa menit
kemudian, Pak Sekdes sudah sampai dirumah beliau dan Pak Kades menjelaskan
ulang maksud dan tujuan kedatangan kami ke Pak Sekdes. Pak Sekdes Renah Pelaan
bernama Apri berumur kurang lebih 32 tahun dan tinggal tidak jauh dari rumah
Pak Kades. Setelah bercerita panjang lebar, kamipun mulai bersepakat untuk
membuat jadwal pertemuan sosialisasi program di Desa renah Pelaan. Pak Apri
mengatakan “alangkah baiknya kalau niat
baik ini kita sampaikan juga ke masyarakat, supaya mereka juga tau tujuan
kedatangan kawan-kawan dari Mitra Aksi, nanti kita undang BPD, Tokoh Masyarakat
dan Pemuda diacara tersebut”. Sayapun langsung mensetujui perkataan Pak Sekdes
dan disepakati pertemuan sosialisasi program dilakukan pada malam minggu yang
bertempat dirumah Pak Kades. Kamipun pamit meninggalkan rumah Pak Kades dan
melanjutkan perjalanan kami ke desa dampingan lainnya untuk bersilaturahmi.
Pada Malam minggu, acara pertemuan
sosialisasi program dimulai, lebih kurang 65 orang hadir dirumah Pak Kades yang
sudah diundang untuk mengikuti sosialisasi, kamipun merasa bersemangat dengan
melihat kehadiran masyarakat di acara tersebut. Acara dimulai dengan pembukaan
dari tim Mitra Aksi dilanjut dengan sambutan dari Pak Kades, kemudian saya
menjelaskan secara rinci rencana kegiatan yang akan dilakukan di Desa Renah
Pelaan untuk jangka waktu 2,5 tahun kedepan. Peserta sosialiasi menyambut baik
kegiatan yang akan dilaksanakan di desa mereka dan diakhir acara Pak Kades
memberikan sambutan penutup dengan mengatakan “ sayo selaku kepala desa menyambut baik tujuan ini, dan sayo minta
kepada warga desa untuk mendukung kegiatan yang akan dilakukan di desa kita
terutama perangkat desa untuk bisa menggerakkan warga supaya terlibat dalam
kegiatan ini, karena jarang sekali ada pihak luar yang mau datang membantu kita
disini”. Acara sosialisasi selesai pukul 23.45 WIB. Setelah peserta pulang
kerumahnya, saya menanyakan ke Pak Kades : siapa
yang mengundang semua peserta yang hadir diacara kita ini pak, kok bisa banyak
yang hadir? Pak Kades menjawab “pertemuan
malam ini untuk undangannya kita umumkan di masjid setelah perihal kalau ado
pertemuan dirumah kito”. Sayapun tersenyum sambil menganggukkan kepala saya
dan mengerti.
Untuk memulai semua kegiatan pendampingan di Desa
Renah Pelaan dan 5 desa dampingan lainnya, Mitra Aksi bersama Pemerintahan
Desa, adat, tokoh masyarakat dan pemuda mulai menyusun data based barbasis geo-spatial dan sosial di desa dampingan. Bagi pemerintah desa, ketersediaan data spatial dan sosial dan isu tematik keruangan menjadi dasar untuk
membangun dan mengembangkan Sistem Informasi desa (SID) sesuai yang
dipersayaratkan oleh UU.No.6 tahun 2014 tentang Desa.
Ketersediaan
data dan informasi yang akurat tentang kondisi keruangan desa memudahkan
pemerintahan desa menyusun kebijakan desa, baik kebijakan yang terkait dengan
Perencaanaan Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) atau kebijakaan pembangunan
jangka panjang (RPJP) Desa. Ketersediaan data juga menjadi pengetahuan bagi pemerintah desa dan warganya dalam mengelola,
mengembangkan, mengambil manfaat dan melindungi sumberdaya alam yang mereka
kuasai.
Penyusunan SID ini dimulai
dengan kegiatan pelatihan kader pemetaan desa, sensus sosial-spasial dan isu
tematik dan terakhir inputing data di aplikasi SID. Pak Marzon Apri
memerintahkan kepada Pak Apri untuk mencari kader pemetaan desa yang akan
terlibat dalam penyusunan SID ini, ada 25 orang kader yang terlatih di Desa
Renah Pelaan yang sudah bisa mengoperasikan alat-alat pemetaan seperti GPS, pH
tanah, TDS air.
Muhammad Khairul,
salah satu kader pemetaan desa Renah Pelaan menjelaskan, “ dengan mengikuti pelatihan pemetaan desa, saya jadi banyak tau tentang
desa. Misalnya berapa jumlah mata air yang ada di desa, apa saja yang
ditanam oleh masyarakat kami dikebunnya dan berapa pendapatan mereka dari
kebunnya. Jadi saya mengikuti pelatihan ini dari awal sampai akhir sampai
dengan inputing data ke aplikasinya”.
Sistem Informasi Desa yang
sudah tersusun, kemudian dipublikasi ke masyarakat desa dan aplikasinya
diserahkan ke desa untuk dikelola, Kepala desa menunjuk salah satu operator
yang bertugas untuk mengupdate data yang dilakukan 3 bulan sekali. Dari hasil penyusunan SID Desa Renah Pelaan
diketahui luas desa ± 1.634 Ha, ada 287 KK yang sebagian besar pekerjaannya
adalah petani, luas lahan kritis 121 Ha dan permasalahan pertanian yang dihadapi
adalah tingginya biaya produksi yang dihabiskan untuk pembelian pupuk dan racun
hama serta belum tersedianya akses jalan yang baik ke lokasi lahan pertanian
warga. Kemudian melalui rapat desa yang dihadiri oleh BPD, Lembaga Adat dan
pemuda, Sistem Informasi Desa (SID) inilah yang menjadi dasar untuk penyusunan
RPJMDes di Desa Renah Pelaan sesuai dengan potensi dan permasalahan yang ada di
desa. Terjadi perubahan pada APBDes tahun 2019 yang prioritas pembangunan
adalah peningkatan hasil pertanian dan perkebunan serta pengembangan potensi
desa.
Permasalahan
lahan kritis dan tingginya biaya produksi sektor pertanian dan perkebunan,
masyarakat desa dan kelompok tani bekerja sama dengan Mitra Aksi melalui
pendekatan Sekolah Lapang
pertanian organik dan ramah lingkungan melakukan kegiatan perbaikan kondisi
biofisik tanah agar bisa ditanami kembali dengan tanaman yang bernilai ekonomi
tinggi dan dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Ada 4 kelompok tani (165
orang) di Desa Renah Pelaan yang terlibat aktif dalam kegiatan ini. Melalui
pendekatan ini dengan luas lahan belajar 1 ha, dapat membuktikan pengurangan
biaya produksi pertanian dan perkebunan. Analisa usaha tani menunjukkan budidaya
secara organik lebih menguntungkan daripada non organik dari segi biaya
produksi, secara organic hanya 22% untuk biaya produksi dan 78% adalah hasil
bersih, sedangkan non organic membutuhkan biaya produksi yang lebih tinggi
yaitu 45% biaya dan 55% hasil bersih.
Dari pendekatan tersebut, lahan kritis yang sudah
ditinggalkan dan dianggap tidak bisa ditanami sudah mulai diolah masyarakat dan
tidak membuka hutan untuk menjadi lahan pertanian baru. Pemerintah desa juga
menganggarkan dana desa menjadi modal BUMDes sebesar Rp.125.000.000 untuk mengembangkan
potensi desa yang ada. Pengelolaan
BUMDes mengintegrasikan potensi desa, kearifan lokal, dan perlindungan
ekosistem kawasan perdesaan, termasuk didalamnya upaya perlindungan benih-benih
lokal.
Melalui
praktek kecil yang terukur yang kita lakukan juga memberikan kesadaran bagi
masyarakat untuk bijak mengolah lahan, Pak Marzon Apri sebagai peserta sekolah
lapang mengatakan “Sebagai Kepala Desa Renah Pelaan, saya juga baru menyadari. Banyak
lahan kritis dan terlantar yang ditinggalkan petani di desa
karena sudah dianggap tidak lagi subur dan menghasilkan. Untuk bertahan
hidup, petani membuka hutan dijadikan kebun. Tapi praktek yang
dilakukan juga sama, sehingga dulu kawasan hutan saat dibuka sangat
subur, sekarang kondisinya sama, makin kritis. Jika cara petani mengolah lahan
masih seperti sekarang, banyak menggunakan pupuk kimia dan racun, kawasan hutan
desa yang tersisa akan segera habis. Warga tidak banyak yang sadar kalau hutan
habis, sumber air juga habis, tanaman dan hewan langka juga akan habis, maka
jika dibiarkan terus menerus kita juga akan habis. Jadi jangan salahkan alam
jika kita sering gagal panen, produksi terus menurun, hama semakin tidak
terkendali, bencana longsor sering terjadi dan air semakin sulit saat kemarau,
ini semua karena kesalahan kita yang memperlakukan alam dengan sembarangan,
tidak bijaksana”
Pernyataan pak kades juga dibenarkan dari data Dinas
Perkebunlan Kabupaten Merangin, luas lahan kritis dalam kawasan hutan 42.332
ha, sangat kritis 27.215 ha. Sedangkan di luar kawasan hutan (APL) 33.348 ha
dan sangat kritis 15.255 ha dan hasil groundceck
lapangan Mitra Aksi bersama para petani kader melalui pemetaan spatial dan
didukung dengan penggunaan drone, berhasil mengidentifikasi lahan-lahan kritis
di 6 desa seluas 1.076, 32 ha dan akan terus meningkat kalau tidak dilakukan
tindakan nyata.
Ada beberapa kekhawatiran Pak Marzon Apri dengan kabiasaan
baru ini, beliau menjelaskan kepada saya “selama ini warga kami dibimbing
langsung oleh kawan-kawan Mitra Aksi dilapangan, lalu bagaimana kalau nanti
kawan-kawan sudah tidak ada di lapangan?". Saya menjelaskan kepada Pak Kades, "kami nanti akan melatih beberapa orang dari 6 desa dampingan kita untuk mejadi
petani pakar, mereka inilah yang nantinya akan meneruskan kegiatan kami
dilapangan, pengetahuan dan keterampilan akan dilatih sesuai dengan apa yang
telah kita lakukan selama ini. Peran dari petani pakar ini adalah mentrasformasikan keterampilan, pengetahuan dan perubahan sikap
kepada para petani lain untuk mempraktekan model pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan". Ada 40 orang
petani pakar dari 6 desa yang dilatih oleh Mitra Aksi.
Setelah berdiskusi lama dengan Pak Marzon Apri, saya mengerti
benar bahwa beliau sebagai kepala desa mengetahui betul potensi dan
permasalahan yang dihadapi oleh desanya, Pemerintah Desa, BPD dan Mitra Aksi dalam
kegiatan Program Legislasi Desa (Prolegdes) mencoba menyusun peraturan desa
untuk mengatur pemanfaatan dan penggunaan lahan di desa mereka dan terbitlah
Peraturan Desa Renah Nomor : 07 Tahun 2019 yang dikeluarkan di Renah Pelaan 02
September 2019 tentang Penataan dan Penggunaan Lahan Desa, ini berisi tentang
kearifan lokal dalam mengatur dan memanfaatkan lahan yang ada di desa, tidak
semua hutan dan kawasan boleh ditebang sembarangan. Setiap kegiatan yang
berhubungan dengan pemanfaatan lahan di desa harus melalui musyawarah desa
dengan persetujuan lembaga adat desa yang memiliki kuasa arah dan ajun tanah yang ada didesa. petani dilarang untuk membuka
lahan baru tetapi difokuskan untuk memperbaiki kondisi lahan kritis yang ada di
desa dengan meningkatkan kesuburan tanah agar bisa berproduksi dan menanam
tanaman yang bernilai ekonomi dan tidak merusak tanah.
Untuk mendapatkan dukungan pemerintah
daerah atas apa yang telah dilakukan pemerintah desa, Mitra Aksi dan
pemerintahan desa bersama-sama menyusun dan mengajukan kawasan khusus untuk dijadikan
kawasan pertanian organik terpadu 6 desa. Kawasan
pertanian organik terpadu ini salah satu alternatif untuk menekan bertambahnya
luasan lahan kritis yang berada di 6 desa dampingan, Surat Keputusan Bupati Merangin Nomor : 476/DPTH/2019 Tanggal : 31 Oktober 2019 tentang Penetapan
Kawasan Pertanian dan Desa Pertanian Organik, Tanaman Pangan, Hortikultura dan
Agroforest Kab. Merangin mengesahkan dan menetapkan lahan di 6 desa seluas 2.193,12
hektar menjadi kawasan pertanian oragnik terpadu.

.jpg)
Komentar
Posting Komentar